{"id":55,"date":"2026-06-02T12:58:12","date_gmt":"2026-06-02T12:58:12","guid":{"rendered":"https:\/\/amiruddinainun.com\/?p=55"},"modified":"2026-06-05T08:57:56","modified_gmt":"2026-06-05T08:57:56","slug":"pancasila-dan-piagam-madinah-meneladani-rasulullah-dalam-merawat-keberagaman","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/amiruddinainun.com\/?p=55","title":{"rendered":"Pancasila dan Piagam Madinah: Meneladani Rasulullah dalam Merawat Keberagaman"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Oleh Amiruddin S.Pd,M.Pd<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Alhamdulillahi rabbil &#8216;alamin, wabihi nasta&#8217;inu &#8216;ala umuriddunya waddin. Washshalatu wasshalamu &#8216;ala asyrafail anbiyai wal mursalin, sayyidina wa maulana Muhammadin, wa &#8216;ala alihi wa shahbihi ajma&#8217;in. Amma ba&#8217;du.<\/em> Jamaah yang dirahmati Allah, tiada kata yang lebih indah untuk mengawali perjumpaan kita hari ini melainkan ucapan syukur ke hadirat Allah SWT, yang telah menakdirkan kita hidup dan bersujud di atas tanah Indonesia\u2014sebuah negeri yang elok, aman, dan damai. Di tengah momentum peringatan Hari Lahir Pancasila ini, mari kita segarkan kembali ingatan kolektif kita, bahwa nikmat persatuan di atas keberagaman yang kita rasakan hari ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan anugerah besar dari Allah yang wajib kita rawat dan jaga bersama.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada uswatun hasanah kita, Rasulullah Muhammad SAW, sang pembawa risalah kedamaian. Seringkali, sebagai seorang Muslim, kita kerap mencari keteladanan bernegara ke dunia Barat, padahal blueprint atau cetak biru terbaik dalam mengelola kemajemukan bangsa telah dicontohkan langsung oleh Rasulullah SAW empat belas abad yang lalu melalui <em>Mithaq al-Madinah<\/em> atau Piagam Madinah. Oleh karena itu, pada kesempatan yang penuh berkah ini, mari kita selami bersama bagaimana nilai-nilai luhur Pancasila sejatinya mengakar kuat pada sunnah Rasulullah dalam merawat keberagaman, demi mewujudkan Indonesia yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>A. Piagam Madinah sebagai Cetak Biru (Blueprint) Pengakuan Keberagaman.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mari kita bawa ingatan kita kembali pada momentum agung ketika Rasulullah SAW menapakkan kaki pertama kali di bumi Yatsrib, yang kemudian berubah nama menjadi Madinah Al-Munawwarah. Saat itu, beliau tidak mendapati sebuah kota yang seragam atau dihuni oleh satu golongan saja. Madinah adalah potret nyata dari sebuah masyarakat yang sangat heterogen. Di sana ada kaum Muslimin yang terdiri dari Muhajirin dan Anshar, ada komunitas Yahudi dari berbagai kabilah seperti Bani Qainuqa, Bani Nadhir, dan Bani Quraizhah, serta masih ada masyarakat Arab yang menganut paganisme atau penyembah berhala. Dalam situasi yang penuh potensi gesekan sosial tersebut, Rasulullah SAW tidak memilih jalur pemaksaan keyakinan ataupun diskriminasi terhadap kelompok minoritas. Sebaliknya, beliau merangkul semua elemen masyarakat tersebut untuk duduk bersama dan mengikat janji setia dalam sebuah dokumen tertulis monumental yang kita kenal sebagai <em>Mithaq al-Madinah<\/em> atau Piagam Madinah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Substansi paling revolusioner dari Piagam Madinah adalah lahirnya konsep <em>Ummatun Wahidah<\/em> (satu umat atau satu kesatuan warga negara). Lewat perjanjian ini, Rasulullah SAW menegaskan bahwa seluruh penduduk Madinah\u2014terlepas dari apa pun latar belakang suku dan agamanya\u2014memiliki hak, kedudukan, dan kewajiban yang setara di mata hukum serta dalam urusan bela negara. Islam menjamin kebebasan beragama bagi kaum Yahudi dan kaum lainnya, selama mereka tidak melakukan pengkhianatan terhadap kesepakatan bersama. Prinsip piagam ini merupakan manifestasi langsung dari firman Allah SWT dalam <strong>Al-Qur&#8217;an Surah Al-Hujurat ayat 13<\/strong>: <em>&#8220;Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.&#8221;<\/em> Ayat ini menegaskan bahwa keberagaman bukanlah sebuah kesalahan kosmis, melainkan desain ilahi yang sengaja diciptakan agar manusia saling bersinergi dan berkolaborasi dalam kebaikan, bukan untuk saling memusnahkan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Cetak biru Piagam Madinah inilah yang kemudian dibaca dengan sangat jeli oleh para ulama Nusantara dan para pendiri bangsa (<em>founding fathers<\/em>) saat merumuskan dasar negara Indonesia. Ulama kharismatik seperti <strong>Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy&#8217;ari<\/strong> (pendiri Nahdlatul Ulama) dan <strong>KH. Mas Mansyur<\/strong> (tokoh Muhammadiyah), bersama para tokoh bangsa lainnya, menyadari betul bahwa Indonesia memiliki kemiripan sosiologis dengan Madinah dalam skala yang lebih raksasa. Oleh karena itu, ketika mereka menyepakati Pancasila, para ulama menegaskan bahwa Pancasila adalah dokumen kebangsaan yang memiliki ruh yang sama dengan Piagam Madinah. Dalam pandangan para ulama Nusantara, Indonesia bukanlah Negara Islam (<em>Darul Islam<\/em>), bukan pula Negara Sekuler, melainkan <em>Darul Ahdi wa Syahadah<\/em>\u2014sebuah negara kesepakatan tempat semua umat beragama berjanji untuk hidup rukun berdampingan. Sila-sila dalam Pancasila, terutama Sila Pertama yang berporos pada Ketuhanan, dipandang oleh para ulama sebagai jembatan emas yang melegitimasi nilai-nilai syariat tanpa harus mengorbankan persatuan dan persaudaraan sesama anak bangsa (<em>Ukhuwah Wathaniyah<\/em>).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>B.Pancasila sebagai &#8220;Kalimatun Sawa&#8221; (Titik Temu) Bangsa Indonesia.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jika kita menengok potret sosiologis bangsa kita hari ini, Indonesia sejatinya adalah replika Madinah dalam skala yang jauh lebih raksasa. Kita dianugerahi ribuan pulau, ratusan suku bangsa, serta beragam bahasa dan agama yang membentang dari Sabang sampai Merauke. Menyadari realitas yang amat majemuk ini, para pendiri bangsa, khususnya para ulama besar seperti KH. Wahid Hasyim dari Nahdlatul Ulama, Ki Bagus Hadikusumo dari Muhammadiyah, serta tokoh-tokoh Islam lainnya, menunjukkan keteladanan akhlak yang luar biasa saat merumuskan dasar negara. Peristiwa paling bersejarah terjadi pada tanggal 18 Agustus 1945, ketika para ulama dengan penuh keikhlasan dan kelapangan dada menyetujui penghapusan tujuh kata dalam Piagam Jakarta\u2014yaitu <em>&#8220;dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya&#8221;<\/em>\u2014demi menjaga perasaan dan merangkul saudara-saudara kita di Indonesia Timur. Pengorbanan ego kelompok ini dilakukan murni demi sebuah tujuan yang lebih mulia: memastikan Indonesia lahir sebagai satu kesatuan utuh yang tidak retak sejak hari pertamanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Keputusan luhur para ulama tersebut bukanlah sebuah kekalahan iman, melainkan ijtihad politik yang sangat cerdas dan berbasis syariat. Dalam khazanah pemikiran Islam Nusantara, posisi Indonesia yang berlandaskan Pancasila ini ditegaskan sebagai <em>Darul Ahdi wa Syahadah<\/em>, yaitu Negara Kesepakatan dan Tempat Bersaksi. Pancasila bertindak sebagai <em>Kalimatun Sawa\u2019<\/em> atau &#8220;titik temu&#8221; yang disepakati bersama oleh seluruh elemen bangsa. Melalui dasar negara ini, umat Islam tidak kehilangan haknya untuk menjalankan syariat dan beribadah dengan tenang, sementara umat agama lain pun mendapatkan jaminan keamanan dan keadilan yang sama tanpa merasa terasing di tanah airnya sendiri. Pancasila adalah bukti nyata bahwa Islam di Indonesia hadir bukan untuk mendominasi dengan pemaksaan, melainkan sebagai <em>rahmatan lil &#8216;alamin<\/em>\u2014pembawa rahmat dan kedamaian bagi seluruh alam.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">C<strong>.Meneladani Rasulullah dalam Konteks Hari Ini<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jamaah yang dirahmati Allah, hari ini kita harus jujur melihat ke dalam cermin bangsa kita. Warisan luhur persatuan yang telah dirajut erat oleh Rasulullah di Madinah dan para ulama di Nusantara kini tengah menghadapi badai ujian yang sangat besar. Kita hidup di era digital di mana media sosial sering kali berubah menjadi panggung caci maki, penyebaran hoaks, dan fitnah yang merusak ukhuwah. Bahaya polarisasi politik dan sosial kian nyata, memicu lahirnya sikap intoleran yang dengan mudahnya membuat sebagian orang saling mengkafirkan, membenci, dan merasa paling benar sendiri hanya karena perbedaan pandangan. Egoisme kelompok ini jika dibiarkan akan menjadi api dalam sekam yang siap membakar dan memecah belah rumah besar bernama Indonesia. Jika kita membiarkan perpecahan ini terjadi, maka kita sedang mengkhianati perjuangan para ulama dan menjauh dari tuntunan akhlak yang diajarkan oleh baginda Nabi Muhammad SAW.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Oleh karena itu, aplikasi praktis dari meneladani Rasulullah hari ini adalah dengan membumikan nilai-nilai Pancasila dalam perilaku sehari-hari. Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, harus kita maknai sebagai landasan spiritual untuk menghargai kebebasan beragama, sejalan dengan prinsip Al-Qur&#8217;an, <em>&#8220;Lakum dinukum waliyadin&#8221;<\/em> (Untukmu agamamu, dan untukku agamaku). Sementara itu, Sila ketiga, Persatuan Indonesia, adalah pengejawantahan nyata dari konsep <em>Ukhuwah Wathaniyah<\/em>\u2014yaitu persaudaraan sesama anak bangsa yang tidak boleh putus hanya karena perbedaan garis keyakinan atau suku. Merawat Indonesia dengan cara menjaga lisan di media sosial, menolak hoaks, serta aktif menebar kedamaian adalah wujud konkret dari menjalankan sunnah Rasulullah dalam menegakkan keadilan sosial. Menjadi Muslim yang baik di negeri ini berarti menjadi garda terdepan yang memastikan bahwa setiap warga negara, tanpa memandang apa pun latar belakangnya, dapat hidup dengan aman, adil, dan bermartabat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebagai kesimpulan dari apa yang telah kita urai bersama, mari kita mantapkan hati dan pikiran kita bahwa Pancasila sama sekali tidak bertentangan dengan syariat Islam; justru sebaliknya, nilai-nilai yang terkandung dalam setiap silanya merupakan hilir murni yang mengalir langsung dari hulu ajaran Islam yang mulia tentang kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial. Pancasila bukanlah agama baru yang menggeser posisi Al-Qur&#8217;an dan Sunnah, melainkan sebuah wadah kebangsaan yang Islami, sebuah manhaj atau jalan bagi kita untuk membumikan nilai-nilai ilahi di bumi Nusantara yang majemuk ini. Oleh karena itu, menjadi seorang Pancasilais yang baik\u2014yang taat hukum, menghargai perbedaan, dan menjaga perdamaian\u2014sejatinya adalah wujud nyata dari cara kita meneladani spirit Piagam Madinah yang diwariskan oleh Rasulullah SAW. Dengan menjaga Pancasila, kita tidak sedang mencoreng keimanan kita, melainkan sedang membuktikan kepada dunia bahwa Islam di Indonesia adalah Islam yang teduh, Islam yang merangkul, dan Islam yang hadir sebagai <em>rahmatan lil &#8216;alamin<\/em> yang menjaga keutuhan bangsa dari generasi ke generasi.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh Amiruddin S.Pd,M.Pd Alhamdulillahi rabbil &#8216;alamin, wabihi nasta&#8217;inu &#8216;ala umuriddunya waddin. Washshalatu wasshalamu &#8216;ala asyrafail anbiyai wal mursalin, sayyidina wa maulana Muhammadin, wa &#8216;ala alihi wa shahbihi ajma&#8217;in. Amma ba&#8217;du. Jamaah yang dirahmati Allah, tiada kata yang lebih indah untuk mengawali perjumpaan kita hari ini melainkan ucapan syukur ke hadirat Allah SWT, yang telah menakdirkan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":56,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[10,7],"tags":[],"class_list":["post-55","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-dakwah","category-opini"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.7 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Pancasila dan Piagam Madinah: Meneladani Rasulullah dalam Merawat Keberagaman -<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/amiruddinainun.com\/?p=55\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Pancasila dan Piagam Madinah: Meneladani Rasulullah dalam Merawat Keberagaman -\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Oleh Amiruddin S.Pd,M.Pd Alhamdulillahi rabbil &#8216;alamin, wabihi nasta&#8217;inu &#8216;ala umuriddunya waddin. Washshalatu wasshalamu &#8216;ala asyrafail anbiyai wal mursalin, sayyidina wa maulana Muhammadin, wa &#8216;ala alihi wa shahbihi ajma&#8217;in. Amma ba&#8217;du. Jamaah yang dirahmati Allah, tiada kata yang lebih indah untuk mengawali perjumpaan kita hari ini melainkan ucapan syukur ke hadirat Allah SWT, yang telah menakdirkan [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/amiruddinainun.com\/?p=55\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-06-02T12:58:12+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-06-05T08:57:56+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/amiruddinainun.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/WhatsApp-Image-2026-05-25-at-15.05.14.jpeg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1600\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1560\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Amir\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Amir\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"7 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/amiruddinainun.com\\\/?p=55#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/amiruddinainun.com\\\/?p=55\"},\"author\":{\"name\":\"Amir\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/amiruddinainun.com\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/17e9935d417cc61ac4ac9c66e8280ae4\"},\"headline\":\"Pancasila dan Piagam Madinah: Meneladani Rasulullah dalam Merawat Keberagaman\",\"datePublished\":\"2026-06-02T12:58:12+00:00\",\"dateModified\":\"2026-06-05T08:57:56+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/amiruddinainun.com\\\/?p=55\"},\"wordCount\":1341,\"commentCount\":0,\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/amiruddinainun.com\\\/?p=55#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/amiruddinainun.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/06\\\/WhatsApp-Image-2026-05-25-at-15.05.14.jpeg\",\"articleSection\":[\"Dakwah\",\"Opini\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/amiruddinainun.com\\\/?p=55#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/amiruddinainun.com\\\/?p=55\",\"url\":\"https:\\\/\\\/amiruddinainun.com\\\/?p=55\",\"name\":\"Pancasila dan Piagam Madinah: Meneladani Rasulullah dalam Merawat Keberagaman -\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/amiruddinainun.com\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/amiruddinainun.com\\\/?p=55#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/amiruddinainun.com\\\/?p=55#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/amiruddinainun.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/06\\\/WhatsApp-Image-2026-05-25-at-15.05.14.jpeg\",\"datePublished\":\"2026-06-02T12:58:12+00:00\",\"dateModified\":\"2026-06-05T08:57:56+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/amiruddinainun.com\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/17e9935d417cc61ac4ac9c66e8280ae4\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/amiruddinainun.com\\\/?p=55#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/amiruddinainun.com\\\/?p=55\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/amiruddinainun.com\\\/?p=55#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/amiruddinainun.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/06\\\/WhatsApp-Image-2026-05-25-at-15.05.14.jpeg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/amiruddinainun.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/06\\\/WhatsApp-Image-2026-05-25-at-15.05.14.jpeg\",\"width\":1600,\"height\":1560},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/amiruddinainun.com\\\/?p=55#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/amiruddinainun.com\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Pancasila dan Piagam Madinah: Meneladani Rasulullah dalam Merawat Keberagaman\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/amiruddinainun.com\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/amiruddinainun.com\\\/\",\"name\":\"amiruddin ainun\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/amiruddinainun.com\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/amiruddinainun.com\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/17e9935d417cc61ac4ac9c66e8280ae4\",\"name\":\"Amir\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8d389477267daf69d8570f087fcb230d7783e103cfd8b87622ae20d3fbec409c?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8d389477267daf69d8570f087fcb230d7783e103cfd8b87622ae20d3fbec409c?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/8d389477267daf69d8570f087fcb230d7783e103cfd8b87622ae20d3fbec409c?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Amir\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/amiruddinainun.com\\\/?author=2\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Pancasila dan Piagam Madinah: Meneladani Rasulullah dalam Merawat Keberagaman -","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/amiruddinainun.com\/?p=55","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Pancasila dan Piagam Madinah: Meneladani Rasulullah dalam Merawat Keberagaman -","og_description":"Oleh Amiruddin S.Pd,M.Pd Alhamdulillahi rabbil &#8216;alamin, wabihi nasta&#8217;inu &#8216;ala umuriddunya waddin. Washshalatu wasshalamu &#8216;ala asyrafail anbiyai wal mursalin, sayyidina wa maulana Muhammadin, wa &#8216;ala alihi wa shahbihi ajma&#8217;in. Amma ba&#8217;du. Jamaah yang dirahmati Allah, tiada kata yang lebih indah untuk mengawali perjumpaan kita hari ini melainkan ucapan syukur ke hadirat Allah SWT, yang telah menakdirkan [&hellip;]","og_url":"https:\/\/amiruddinainun.com\/?p=55","article_published_time":"2026-06-02T12:58:12+00:00","article_modified_time":"2026-06-05T08:57:56+00:00","og_image":[{"width":1600,"height":1560,"url":"https:\/\/amiruddinainun.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/WhatsApp-Image-2026-05-25-at-15.05.14.jpeg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Amir","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Amir","Est. reading time":"7 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/amiruddinainun.com\/?p=55#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/amiruddinainun.com\/?p=55"},"author":{"name":"Amir","@id":"https:\/\/amiruddinainun.com\/#\/schema\/person\/17e9935d417cc61ac4ac9c66e8280ae4"},"headline":"Pancasila dan Piagam Madinah: Meneladani Rasulullah dalam Merawat Keberagaman","datePublished":"2026-06-02T12:58:12+00:00","dateModified":"2026-06-05T08:57:56+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/amiruddinainun.com\/?p=55"},"wordCount":1341,"commentCount":0,"image":{"@id":"https:\/\/amiruddinainun.com\/?p=55#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/amiruddinainun.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/WhatsApp-Image-2026-05-25-at-15.05.14.jpeg","articleSection":["Dakwah","Opini"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/amiruddinainun.com\/?p=55#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/amiruddinainun.com\/?p=55","url":"https:\/\/amiruddinainun.com\/?p=55","name":"Pancasila dan Piagam Madinah: Meneladani Rasulullah dalam Merawat Keberagaman -","isPartOf":{"@id":"https:\/\/amiruddinainun.com\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/amiruddinainun.com\/?p=55#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/amiruddinainun.com\/?p=55#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/amiruddinainun.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/WhatsApp-Image-2026-05-25-at-15.05.14.jpeg","datePublished":"2026-06-02T12:58:12+00:00","dateModified":"2026-06-05T08:57:56+00:00","author":{"@id":"https:\/\/amiruddinainun.com\/#\/schema\/person\/17e9935d417cc61ac4ac9c66e8280ae4"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/amiruddinainun.com\/?p=55#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/amiruddinainun.com\/?p=55"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/amiruddinainun.com\/?p=55#primaryimage","url":"https:\/\/amiruddinainun.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/WhatsApp-Image-2026-05-25-at-15.05.14.jpeg","contentUrl":"https:\/\/amiruddinainun.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/WhatsApp-Image-2026-05-25-at-15.05.14.jpeg","width":1600,"height":1560},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/amiruddinainun.com\/?p=55#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/amiruddinainun.com\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Pancasila dan Piagam Madinah: Meneladani Rasulullah dalam Merawat Keberagaman"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/amiruddinainun.com\/#website","url":"https:\/\/amiruddinainun.com\/","name":"amiruddin ainun","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/amiruddinainun.com\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/amiruddinainun.com\/#\/schema\/person\/17e9935d417cc61ac4ac9c66e8280ae4","name":"Amir","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8d389477267daf69d8570f087fcb230d7783e103cfd8b87622ae20d3fbec409c?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8d389477267daf69d8570f087fcb230d7783e103cfd8b87622ae20d3fbec409c?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/8d389477267daf69d8570f087fcb230d7783e103cfd8b87622ae20d3fbec409c?s=96&d=mm&r=g","caption":"Amir"},"url":"https:\/\/amiruddinainun.com\/?author=2"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/amiruddinainun.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/55","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/amiruddinainun.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/amiruddinainun.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/amiruddinainun.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/amiruddinainun.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=55"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/amiruddinainun.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/55\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":57,"href":"https:\/\/amiruddinainun.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/55\/revisions\/57"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/amiruddinainun.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/56"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/amiruddinainun.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=55"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/amiruddinainun.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=55"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/amiruddinainun.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=55"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}