Oleh. Amiruddin S.Pdi.M.Pd (Materi Khutbah di Masjid Jabal Tsur )
Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Pertama-tama, marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benar takwa. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada baginda Nabi Muhammad SAW.
Hari ini, mimbar Jumat ingin mengajak kita semua merenungkan sebuah nikmat yang sering kali luput dari kesyukuran, namun penuh dengan tanda peringatan: Nikmat Umur, khususnya ketika menyentuh angka 40 tahun.
Usia 40 tahun bukanlah angka sembarangan. Dalam Al-Qur’an, ini adalah satu-satunya usia yang disebut secara spesifik sebagai fase kematangan berpikir, emosi, dan spiritual manusia. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Ahqaf ayat 15:
حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun, ia berdoa: ‘Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri’.” (QS. Al-Ahqaf: 15)
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa balagha asyuddahu adalah masa di mana kekuatan fisik, akal, dan pemahaman seseorang telah mencapai titik sempurnanya. Setelah masa ini, secara perlahan fisik manusia akan mulai menurun.
Imam Al-Qurthubi menambahkan bahwa akal manusia mencapai kematangan sempurna justru ketika menyentuh angka 40 tahun. Hal ini juga didukung oleh fakta sejarah kenabian, di mana mayoritas nabi dan rasul (termasuk Nabi Muhammad saw.) diangkat oleh Allah Swt. saat tepat berusia 40 tahun.
Maka Ketika kita berumur 40 tahun kata Allah maka bermohonlah pada Allah swt
أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ ‘Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku.
Ketika umur 40 tahun maka perbanyaklah doa pada Allah memohon petunjuk untuk mensyukuri nikmat yang telah di berikan , ap aitu Syukur…? Syukur itu Adalah yngkapan atas nikmat yang diberikan oleh Allah , agar menggunakan nikmat sesuai yang di peruntukkan oleh Allah swt, seperti mata , sudh berapa banyak ayat alquran kita baca, seorang bocah di mesir pernah menggemparkan media arab, seorang anak yang buta, kemudian iya minta kepada bapaknya , wahai bapak aku ingin menghapal al-quran, bapaknya mengatakan bagaimana mungkin bisa bisa menghapal alquran, sedangkan engkau buta anakku, anaknya tetap ngotot , akhirnya dengan kendaraan tuanya setiap hari iya antar anaknya , sehingga anaknya pun menghapal al-quran Ketika anak ini diwawancarai media tv, kira-kira apa yang engkau minta kepada Allah swt, anaknya ini mengatakan andai aku boleh meminta kepada Allah swt, saya hanya ingin memohon kepada Allah swt, butakanlah aku selamanya, agar aku dibutakan selamanya agar aku bisa menjaga hapalanku.
Melalui ayat ini, Allah membocorkan rahasia besar. Usia 40 tahun adalah garis start spiritual yang baru. Di usia ini, seorang hamba tidak lagi pantas berpikir layaknya anak muda yang labil. Fokus hidupnya harus berubah total menjadi: fokus bersyukur, fokus berbakti (meski orang tua mungkin sudah tiada), fokus beramal saleh, memikirkan kesalehan keturunan, dan memperbanyak taubat.
Alhabib Taufiq Bin Abdul Qadir Assegaf mengatakan bahwa ada malaikat yang diberikan tugas oleh Allah Swt, dan dia sekarang dilangit ke empat, untuk menyerukan kepada kita Abna Al Arbain , wahai anak adam yang berumur 40 tahun, kamu ibarat tanaman yang sudah siap di panen, artinya kamu sudah siap dipanen artinya waktu kematian itu sudah dekat.
Jamaah yang dirahmati Allah,
لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنِ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلَاهُ
Terjemahan Hadis
Dari Abu Barzah Al-Aslami radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat nanti sampai ia ditanya tentang empat perkara: (1) Tentang umurnya, untuk apa dia habiskan, (2) tentang ilmunya, apa yang telah ia amalkan, (3) tentang hartanya, dari mana ia peroleh dan ke mana ia infakkan, dan (4) tentang tubuhnya (masa mudanya), untuk apa ia gunakan.”
(HR. Tirmidzi, No. 2417. Imam Tirmidzi mengatakan bahwa hadis ini hasan shahih)
Jamaah Jumat yang berbahagia,
Para ulama menjelaskan, jika pada usia 40 tahun seseorang belum juga kembali ke jalan Allah, maka jalan menuju usia 60 tahun akan dilewati dengan kelalaian yang sama. Bahkan dalam hadis riwayat Imam Ahmad, Rasulullah SAW mengingatkan bahwa ketika manusia mencapai usia 40 tahun, Allah mulai memperketat “hisab” atau perhitungan amalnya di dunia melalui tanda-tanda fisik, seperti melemahnya pandangan dan munculnya uban. Uban adalah “surat peringatan” dari malaikat maut bahwa waktu kita tidak lama lagi.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, Bagaimana para ulama sufi, para kekasih Allah, memandang nikmat umur ini?
Bagi para ulama sufi, umur adalah modal utama (al-ashl). Setiap tarikan napas adalah permata yang tak ternilai harganya. Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin menyatakan:
“Setiap hari yang berlalu dari umurmu, berarti berkurang pula sebagian dari dirimu. Maka bersenang-senang dengan sisa umur yang ada untuk maksiat adalah kegilaan yang nyata.”
Sementara itu, Fudhail bin Iyadh, seorang ulama sufi terkemuka, pernah bertanya kepada seseorang: “Berapa usiamu sekarang?” Orang itu menjawab: “60 tahun.” Fudhail berkata: “Berarti sejak 60 tahun lalu engkau berjalan menuju Tuhanmu, dan sebentar lagi engkau akan sampai.” Orang itu gemetar dan bertanya: “Lalu apa solusinya?” Fudhail menjawab dengan indah: “Perbaikilah sisa umurmu yang masih ada, maka Allah akan mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu. Namun jika engkau tetap buruk di sisa umurmu, engkau akan disiksa atas dosa masa lalumu dan sisa umurmu.”
Para sufi juga mengingatkan, usia 40 tahun adalah masa di mana “syahwat dunia harus mulai disapih”. Jika di usia 40 tahun kita masih sibuk mengejar harta dengan menghalalkan segala cara, masih gemar memamerkan ego, dan berat untuk melangkah ke masjid, maka hati kita sedang terjangkit penyakit spiritual yang akut.
مَنْ بَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً وَلَمْ يَغْلِبْ خَيْرُهُ شَرَّهُ، فَلْيَتَجَهَّزْ إِلَى النَّارِ
Rasulullah SAW bahkan pernah mengingatkan dalam sebuah riwayat: “Siapa yang usianya melebihi 40 tahun, namun kebaikannya tidak mengalahkan keburukannya, maka bersiap-siaplah ia masuk neraka.” (Hadis ini, meski sebagian ulama mendhaifkannya, maknanya menjadi pengingat/tahdzir yang sangat kuat bagi para sufi untuk berbenah).
Oleh karena itu, marilah kita jadikan usia 40 tahun—atau berapapun usia kita saat ini—sebagai momentum untuk berbelok arah menuju Allah. Mintalah doa sebagaimana yang Allah ajarkan dalam Surah Al-Ahqaf tadi: Rabbi awzi’nii an asykura ni’matak… Ya Allah, bimbing aku untuk bersyukur, bimbing aku untuk beramal saleh.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
