Menghitung Sisa Langkah Menuju Pulang

Oleh.Amiruddin S.Pd.M.Pd

Kisah pertemuan antara ulama besar Imam Fudhail bin Iyadh dengan seorang lelaki senja menyimpan tamparan spiritual yang begitu mendalam bagi siapa saja yang masih terlena dengan megahnya dunia. Pada suatu hari yang bersahaja, sang Imam berpapasan dengan seorang kakek yang guratan wajahnya telah dimakan usia. Didorong oleh rasa kasih sayang sesama muslim, Imam Fudhail menghentikan langkahnya dan mengajukan sebuah pertanyaan sederhana namun memancing perenungan, “Berapakah usiamu saat ini?” Dengan tenang, sang kakek menjawab bahwa dirinya kini telah menginjak usia enam puluh tahun.

Mendengar jawaban tersebut, Imam Fudhail tidak sekadar mengangguk, melainkan memberikan sebuah analogi cerdas yang langsung menusuk ke dalam kalbu. Beliau menyadarkan sang kakek bahwa selama enam dekade hidup di bumi, langkah kakinya sebenarnya tidak pernah benar-benar berhenti. Setiap detik yang terlewati adalah langkah kaki yang terus berjalan mendekati kematian dan bergerak menuju Sang Pencipta. Dengan kata lain, di usianya yang sudah berkepala enam, sang kakek disadarkan bahwa dirinya sudah berada sangat dekat dengan garis finis dan hampir sampai ke tempat tujuan akhir.

Seketika itu juga, atmosfer di sekitar mereka berubah menjadi hening dan sarat akan penyesalan. Kalimat terukur dari Imam Fudhail bergetar hebat di dalam dada sang kakek, meruntuhkan segala kelalaian yang selama ini menyelimuti hatinya. Sadar bahwa jatah waktunya di dunia sudah berada di ujung tanduk, ia langsung tersentak dan spontan mengucapkan kalimat tarji’, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”—sebuah pengakuan tulus bahwa ia adalah milik Allah dan pasti akan kembali kepada-Nya. Dengan nada suara yang dipenuhi kecemasan dan air mata, sang kakek pun bertanya, “Lalu, apa solusinya wahai Syaikh?”

Melihat ketulusan dan ketakutan yang membayangi wajah lelaki tua itu, Imam Fudhail tersenyum bijak seraya menenangkan hatinya. Beliau menegaskan bahwa solusi dari keterlanjuran itu sebenarnya sangat mudah dan pintu kasih sayang Allah selalu terbuka lebar bagi hamba-Nya yang ingin pulang. Solusi terbaik bukanlah meratapi waktu yang telah hilang atau tenggelam dalam penyesalan masa lalu yang sia-sia, melainkan dengan memfokuskan seluruh sisa energi dan pikiran untuk memperbaiki diri di sisa umur yang masih Allah pinjamkan.

Di akhir dialog yang sarat akan pesan filosofis tersebut, Imam Fudhail memberikan sebuah peringatan penutup yang sangat tegas. Beliau menjelaskan bahwa jika sang kakek memanfaatkan sisa hidupnya untuk berbenah dan bertaubat, maka Allah dengan kemurahannya akan mengampuni dosa-dosanya di masa lalu sekaligus dosa di sisa umurnya. Namun sebaliknya, jika ia tetap memilih hidup dalam kelalaian dan kemaksiatan, maka ia akan memikul beban siksaan ganda: dihukum atas dosa-dosa masa mudanya yang belum sempat ditaubati, serta dosa dari keburukan yang ia lakukan di masa tuanya.