Oleh ,Amiruddin S.Pd M.Pd
Kisah keteladanan akhlak Imam Hasan Al-Basri dengan tetangganya yang beragama Nasrani menjadi salah satu bukti paling indah tentang bagaimana Islam mengajarkan kedamaian dan kesabaran. Selama bertahun-tahun, Hasan Al-Basri tinggal di sebuah rumah di mana atap kamar tidurnya tepat berada di bawah saluran pembuangan atau toilet tetangga non-Muslim tersebut. Karena adanya kerusakan, air najis dari lantai dua itu merembes dan menetes sedikit demi sedikit ke kediaman sang Imam.
Alih-alih marah, menegur, atau membalas perbuatan tersebut, Hasan Al-Basri memilih untuk merawat tetangganya dengan kebaikan yang luar biasa. Setiap hari, beliau dengan sabar menaruh sebuah wadah di bawah titikan air rembesan tersebut agar tidak mengotori bagian rumah yang lain. Ketika malam tiba dan wadah itu telah penuh dengan air najis, beliau akan membuangnya secara diam-diam tanpa pernah mengeluh atau menunjukkan raut wajah kesal sekalipun saat berpapasan dengan tetangganya.
Rahasia kesabaran ini terjaga rapat selama dua puluh tahun, hingga akhirnya Hasan Al-Basri jatuh sakit parah yang membuatnya terbaring lemah. Sang tetangga Nasrani datang berkunjung untuk menjenguk dan menghormati beliau sebagai orang saleh. Namun, ketika melangkah masuk ke dalam kamar tidur sang Imam, perhatian tetangga itu langsung tertuju pada sebuah wadah yang berisi air kotor berbau busuk, serta langit-langit kamar yang tampak basah dan lapuk akibat rembesan air.
“Sejak kapan tempat ini menampung air kotor ini?” tanya sang tetangga dengan rasa heran sekaligus curiga. Hasan Al-Basri menjawab dengan lembut, “Sejak dua puluh tahun yang lalu.”
Mendengar jawaban tersebut, runtuhlah hati sang tetangga. Ia menyadari bahwa air najis itu berasal dari rumahnya sendiri, dan selama dua dekade, Imam Hasan Al-Basri telah menanggung bau serta kotoran tersebut demi menjaga kenyamanan hatinya. Merasa sangat bersalah sekaligus takjub oleh keagungan akhlak sang Imam, tetangga tersebut langsung menangis terharu. Detik itu juga, ia menyatakan diri memeluk agama Islam di hadapan Hasan Al-Basri karena menyadari bahwa ajaran yang melahirkan kesabaran seindah itu pastilah kebenaran yang sejati.
